Dari Santri ke Guru: Bagaimana Pengalaman Sorogan Menyiapkan Santri untuk Menjadi Pengajar Andal

Metode Sorogan, sebuah tradisi belajar individual di pesantren, ternyata tidak hanya berfokus pada penguasaan materi bagi santri, tetapi secara tersembunyi juga berfungsi sebagai pelatihan pedagogis yang intensif untuk mencetak generasi guru yang andal. Pengalaman Sorogan menempatkan santri dalam posisi sebagai penerima ilmu yang dituntut untuk aktif, kritis, dan bertanggung jawab penuh atas bacaannya. Transformasi dari santri menjadi guru dimulai ketika mereka menginternalisasi tidak hanya materi (mutun) tetapi juga cara penyampaian, koreksi, dan adab yang dilakukan oleh kyai. Oleh karena itu, Pengalaman Sorogan adalah masterclass nyata dalam ilmu mengajar, yang secara langsung mempersiapkan santri untuk menjadi pendidik yang kompeten.

Salah satu kunci kesiapan mengajar yang dihasilkan dari Pengalaman Sorogan adalah keterampilan diagnosa dan koreksi real-time. Selama Sorogan, santri mengamati bagaimana kyai dapat dengan cepat mengidentifikasi kesalahan gramatikal sekecil apa pun, menjelaskan illah (alasan) hukumnya, dan memberikan solusi yang tepat tanpa mempermalukan murid. Santri yang kelak menjadi guru akan meniru keahlian ini. Mereka belajar bahwa mengajar adalah tentang memahami di mana letak kesulitan spesifik setiap murid, bukan hanya menuntaskan silabus. Pondok Pesantren Nurul Iman di Padang, memiliki program kaderisasi guru yang mengharuskan calon pengajar menjadi muballigh (asisten guru) di sesi Sorogan minimal selama satu tahun penuh sebelum diangkat.

Selain keterampilan teknis mengajar, Pengalaman Sorogan mentransfer kualitas spiritual dan etika mengajar. Santri melihat bagaimana kyai mengajar dengan tawadhu’ (kerendahan hati), kesabaran (hilm), dan ikhlas (ketulusan). Kualitas adab guru ini adalah fondasi pedagogi pesantren yang membuat ilmu menjadi barakah (bermanfaat). Calon guru disiapkan untuk memandang mengajar sebagai ibadah, bukan sekadar profesi, sehingga mereka akan selalu mengedepankan kepentingan murid di atas ego pribadi.

Relevansi Pengalaman Sorogan dalam mencetak kader guru yang berintegritas juga terlihat dalam konteks pendidikan umum. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), dalam lokakarya peningkatan kualitas guru di daerah terpencil pada Maret 2026, mencatat bahwa teknik bimbingan individual dan penguatan karakter yang diajarkan di pesantren sangat efektif diterapkan di kelas untuk meningkatkan empati guru terhadap kesulitan belajar siswa.

Secara keseluruhan, Pengalaman Sorogan adalah laboratorium pedagogis yang lengkap. Metode ini tidak hanya mendidik santri tentang ilmu, tetapi juga secara aktif melatih mereka dalam keterampilan diagnosa, koreksi yang beretika, dan penanaman semangat ketulusan yang esensial. Inilah yang mengubah seorang santri menjadi pengajar andal, yang siap mentransfer ilmu dan adab dengan kualitas tinggi.