Mengapa Metode Sorogan Tetap Relevan di Era Pendidikan Digital?
admin
- 0
Pesatnya perkembangan teknologi informasi telah membawa perubahan besar pada cara manusia belajar, di mana akses terhadap informasi kini bisa didapatkan hanya dengan satu klik di layar perangkat digital. Namun, di tengah banjirnya konten edukasi instan tersebut, banyak pihak mulai mempertanyakan eksistensi metode tradisional yang dianggap lambat dan kuno. Sebaliknya, kita justru menemukan bahwa era pendidikan digital ini justru semakin mempertegas kebutuhan akan metode bimbingan personal seperti sorogan. Metode ini menawarkan kedalaman dan validasi yang sering kali hilang dalam pembelajaran mandiri di dunia maya, di mana informasi sering kali tersebar tanpa pengawasan ahli dan tanpa struktur kurikulum yang jelas.
Salah satu alasan utamanya adalah masalah otentisitas dan pemahaman yang komprehensif. Dalam era pendidikan digital, seseorang bisa saja merasa sudah pintar hanya dengan menonton video singkat atau membaca artikel pendek di media sosial. Namun, pembelajaran semacam itu sering kali bersifat permukaan dan rawan salah tafsir karena tidak ada proses tanya jawab langsung yang intensif. Sorogan memberikan ruang bagi santri untuk melakukan verifikasi pemahaman secara seketika kepada gurunya. Di sini, kualitas jauh lebih diutamakan daripada kuantitas. Seorang santri mungkin hanya menyelesaikan satu halaman dalam satu sesi, namun ia benar-benar menguasai halaman tersebut secara totalitas dari berbagai aspek keilmuan.
Selain itu, metode sorogan menjaga aspek “adab” yang sering kali tergerus di dunia maya. Menghadapi tantangan di era pendidikan digital, nilai-nilai kesantunan, kesabaran, dan penghormatan terhadap guru menjadi sesuatu yang sangat langka. Belajar melalui algoritma internet membuat seseorang cenderung menjadi konsumen informasi yang egois. Sementara di pesantren, melalui sorogan, proses transfer ilmu diiringi dengan transfer karakter. Santri belajar untuk rendah hati di hadapan ilmu, belajar untuk menerima kritik, dan belajar untuk menghargai proses yang panjang. Karakteristik ini justru merupakan kompetensi yang sangat dicari di dunia kerja modern yang sangat menekankan pada kecerdasan emosional dan integritas moral.
Terakhir, sorogan menciptakan ketahanan intelektual bagi para pelajar. Di tengah disrupsi informasi pada era pendidikan digital, kemampuan untuk fokus pada satu naskah klasik dan membedahnya secara mendalam adalah keahlian yang sangat berharga. Santri yang terbiasa dengan sorogan memiliki daya konsentrasi yang lebih tinggi dan kemampuan analisis yang lebih tajam dibandingkan mereka yang terbiasa dengan informasi potongan-potongan kecil. Pesantren membuktikan bahwa teknologi boleh saja berkembang, namun metode “hati ke hati” dan pengawasan langsung dari sang ahli tetaplah cara terbaik untuk melahirkan cendekiawan sejati yang memiliki kedalaman ilmu dan kemuliaan akhlak bagi kemajuan peradaban manusia
